12.9.13

kita B 8 AJ




Pernah nggak temenan kentel banget? Kemana mana barengan sih (seringnya).
Aku dewi anggraeni (hik) sama 4 wanita super, nila amani fajria (nila), ira ayuningtyas (ira), chusnul chotimah (mbahe), ratih widyaningrum (kun), dan 3 lelaki kece, toetoeko putro hutomo (tukok), choirul ichsan (acong), dan setyo ardi nugroho (bendot). Mulai temenan kentel malah di tingkat akhir masa perkuliahan kita.
Nggak tau awal mulanya darimana, kita gabung gitu aja.
Kita sering bilang, kita itu “markobet family” (bahasanya si bendot sih itu).
Kita mau nya barengan terus sampe kita punya suami, istri, anak, atau sampe cucu kali ya. Dikala kita udah berkeluarga, kita masih sering kumpul aja. Cerita, sharing, nongkrong, haha hihi, bahas–bahas nggak jelas, nyari-nyari bahan. *ngebayanginnya aja udah seru banget*
Dulunya itu, aku jarang kumpul sama mereka, palingan ya sama nila sama mbahe, kalo sama kun itu karena aku dulu satu LPM sama dia jadi lumayan sering barengan. Kalo ira, tukok, acong, bendot, mereka emang udah sering barengan.
Awal mulanya, pas smt 5, aku jauh sama sahabatku, aku jadi keseringan sama nila sama mbahe, terus sama kun karena satu tim pas Tugas Akhir. Sedangkan kun sama ira pasti barengan terus, jadi gabung sama ira juga. Jadi bebarengan aku, nila, mbahe, ira, sama kun. Terus kalo lagi dikantin gitu sukanya satu meja sama tukok, acong, bendot. Yaudah deh, kita jadi keseringan kumpul bareng. Secara juga kita satu kelas jadi ya bebarengan terus.
Pernah ngerasa nggak kalo “Teman itu kekuatan”.
Kalo nggak karena aku ketemu temen-temen gila kayak mereka, mungkin sampe sekarang aku masih sering mikirin sahabatku.
Kalo nggak ketemu temen-temen yang istimewa kayak mereka, mungkin nila bakalan galau lama banget pas putus sama mantannya.
Kalo nggak ketemu temen-temen yang sabar kayak mereka, mungkin mbahe udah jarang punya temen dan jadi orang yg krik krik haha *peace mbah*.
Kalo nggak ketemu temen-temen yang asik kayak mereka, mungkin ira bakalan nangis terus kali ya kalo dapet tugas yang susah (kayak tragedi foxpro) tapi karena ada mereka, ira hebat ik bisa ngelarin TA nya dengan lancar hehe.
Kalo nggak ketemu temen-temen yang markobets kayak mereka, mungkin ratih nggak bakalan jadi kun (haha maksute piye) :p
Kalo nggak ketemu temen-temen yang kayak mereka, mungkin bendot, tukok, acong nggak bakal jadi mahasiswa yg rajin, aku sayang mereka bertiga, mereka istimewa :’)
Kalian semua istimewa, care nya, asik nya, sharing nya, kekeluargaannya.
Kalo nggak karena ini semua, nila sama ira nggak bakal pernah jadi temen deket, nge-mall berdua, runtang runtung kemana mana haha.

when your waiting, just a nothing!



Waiting is a boring thing, setuju banget haha
Tapi pernah nggak, kita lagi nunggu tapi nggak ngerasa boring sama sekali, seneng sih malahan.
Nunggu cinta ya? Haha katanya sih gitu, banyak sih yang nunggu cinta dan nggak bosen buat ngejalaninnya.
Nggak sengaja ketemu orang (re: cowok), nggak sengaja juga salah tatap eh jadi ngeliat sisi menarik dari orang itu. Yaudah deh, jadi suka, padahal belum tentu orang itu single dan belum tentu juga orang itu suka lawan jenis (alias nggak gay).
Kalo ngomongin nunggu, aku punya kisah istimewa dari sahabat ku.
Kita samarin namanya jadi Ratih (eh, itu sebut nama ya?) haha gakpapa deh, halal kok haha.
Hampir 3 tahun kali ya dia nunggu orang prodi sebelah hehe, tapi apa? Nggak bisa apa-apa ya?
Nggak enak ya jadi cewek, kalo suka nggak bisa bilang, bisanya cuma nunggu doang. (Riyani Quotes – 5cm Movie)
Hampir 3 tahun, ratih cuma berani curi-curi pandang dari meja kantin sebelah haha pesonanya orang prodi sebelah emang suka nggak nguatin sih jadi agak-agak rugi aja kalo nggak diliatin haha takut mubadzir.
Inilah kenapa dibilang “when your waiting, just a nothing” ketika penantianmu, nggak ada hasilnya aja gitu.
Mau bilang nggak berani, ah jangankan bilang, ngajak ngomong orangnya aja kudu panas dingin dulu.
Buat minta folbek sama orangnya, ratih butuh waktu lebih dari 3 bulan (mungkin) haha.
Ratih sih selalu ngandelin lagunya kang afgan – jodoh pasti bertemu katanya, kalo nggak ya rahasia hatinya bang giring.
Yang pasti, disetiap penantian akan ada hasil yang bisa kita syukuri kok. Dengan menanti kita belajar sabar dan memulai memahami nikmatnya keindahan cinta yang Tuhan kasih ke kita.
Andaikan aku bisa berbuat banyak untukmu sobat, pasti apapun buat kamu *love yaa ~

pernah kau anggap sebagai temen aja udah cukup kok!



Teman, orang yang berada dalam 1 ruangan dengan kita saat kita berkuliah, itu teman namanya.
Teman, dia yang duduk 1 meja dengan kita dan mengobrol banyak, itu juga teman namanya.
Teman, yang berjumpa dan menyapa kita ketika berpapasan, bisa disebut teman.
Teman, yang haha hihi bareng, main bareng, minimal tau nama satu sama lain, itu juga teman.
Teman, mungkin yang bisa bekerja sama, mengerti, memahami, dan tak pernah marah ketika teman berbuat salah.
Pernah kau anggap aku sebagai teman saja aku sudah merasa cukup. Walau entah posisiku apa sekarang dihidupmu. Entah mantan teman, entah musuh.
Yang pasti aku tak pernah tau pengertian teman manakah yang kau berikan padaku.
Berteman denganmu, baik, asik, seru, more than fun!
Tapi entah, noda manakah yang jatuh diantara pertemanan kita hingga entah mengapa juga sekarang posisiku hanya (pernah) menjadi temanmu.
Jangankan mengobrol atau menyapa, melirik pun kau enggan.
Teman, sebenarnya takpernah ada kata putus dalam pertemanan, tapi setidaknya kau sudah tak ingin memiliki silaturahmi yang baik denganku.
Kau mungkin bukan teman yang terbaik, hanya saja berteman denganmu itu menyenangkan!

kalo itu bukan punyaku.



“disetiap hela tawamu, mungkin akan ada air mata yang harus kau bayarkan”
Pernah merasakan rasa dimana tak ingin mempunyai apa yang dimiliki sekarang? Jelas pernah. Berasa lebih  baik “nggak ada” daripada “ada”. Yang pasti syukuri aja, apapun yang dikasi Tuhan, itu yang terbaik buat dirimu dan hidupmu.
Semudah itu? Jelas tidak.
Aku berusaha untuk tidur,
Memejamkan mata,
Bukan karena lelah ataumengantuk,
Aku hanya ingin menutup buku kesedihan hari ini,
Siang tadi aku sudah tertawa terbahak-bahak.
Biarkan aku terlelap dengan kesedihan yang amat menyayat malam ini hingga (mungkin) ku tak terbangun esok hari.

nggak enak ya jadi aku.



Andaikan aku terlahir bodoh, aku tak perlu takut akan gagal karena orang disekitarku akan menganggap itu maklum.
Andaikan aku terlahir gila, aku tak perlu memikirkan bagaimana masa depanku nanti dan aku tak perlu tertekan oleh segala pressure dari orang disekitarku.
Andaikan aku terlahir bukan sebagai aku, mungkin aku tak perlu bersedih hanya karena memikirkan kenapa aku begini.
Aku hanya ingin membahagiakan mereka dan membuat mereka bangga karena Tuhan telah menghadirkanku untuk mereka.
Namun ini semua tak semudah saat meraih IPK 3.
Lebih butuh banyak pengorbanan, terutama perasaan.
Terkadang terfikir, susah sekali membuat mereka mensyukuri segala yang kumiliki dan apapun yang telah kudapatkan.
Setidaknya bersyukur karena kau telah menjadi aku yang sekarang.
Sulitnya hidup dibawah bayang2 orang lain, seolah2 kita berdiri diatas kaki sendiri namun mengambang.
Andaikan banyak yang mau belajar mengerti bahwa setiap hasil yang diperoleh, masih banyak hal yang dapat disyukuri.
Andaikan mereka juga mau mengerti, setidaknya mau menerima dengan rasa syukur dan mengucap hamdallah.
Mereka, mereka diatas adalah mereka yang kusebut orang tuaku, yang tak pernah sedikitpun ingin ku kecewakan.